Kegiatan Kader

Sarasehan Pancasila di Bandungan Dorong Gotong Royong dan Kepedulian Sosial

26 Juli 2026 • Waktu Baca 5 Menit
Sarasehan Pancasila di Bandungan Dorong Gotong Royong dan Kepedulian Sosial
Sekretaris DPD PKS Kabupaten Semarang, Ahmad Muntaha, menyampaikan sambutan dalam Sarasehan Penanaman Nilai-Nilai Pancasila di Pondok Makan Bukit Alam, Bandungan, Kabupaten Semarang, Minggu (26/7/2026). Foto: Dok. Humas

BANDUNGAN, KABUPATEN SEMARANG — Nilai-nilai Pancasila tidak cukup berhenti sebagai slogan, tetapi harus diwujudkan melalui gotong royong, kepedulian sosial, musyawarah, serta penggunaan media sosial secara bertanggung jawab. Pesan tersebut mengemuka dalam Sarasehan Penanaman Nilai-Nilai Pancasila di Pondok Makan Bukit Alam, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Minggu (26/7/2026).

Kegiatan yang diikuti sekitar 80 peserta itu menghadirkan anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKS, Dr. H. Muh. Haris, S.S., M.Si. Peserta berasal dari unsur pengurus Dewan Pengurus Cabang (DPC) dan Dewan Pengurus Ranting (DPRa) PKS di Daerah Pemilihan 5 Kabupaten Semarang, meliputi Kecamatan Bandungan, Ambarawa, Jambu, dan Sumowono.

Hadir pula Sekretaris DPD PKS Kabupaten Semarang Ahmad Muntaha, A.Md., yang mewakili Ketua DPD PKS Kabupaten Semarang; Ketua Bidang Pembinaan Cabang Dapil 5 Aminarto; serta Syaiful Umar yang mewakili Ketua Bidang Kaderisasi Anggota dan Pembinaan DPD PKS Kabupaten Semarang Ahmad Rifai.

Pancasila Dimulai dari Lingkungan Terdekat

Ahmad Muntaha mengatakan pengamalan nilai-nilai Pancasila dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Menurut dia, kepedulian terhadap tetangga, kesediaan hadir dalam pertemuan masyarakat, serta kebiasaan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah merupakan bentuk nyata penerapan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menilai keberadaan organisasi hingga tingkat desa perlu diikuti kegiatan yang memberi manfaat bagi masyarakat. Struktur organisasi, lanjutnya, tidak semestinya hanya berfungsi secara administratif, tetapi juga menjadi sarana membangun kebersamaan dan menjawab kebutuhan warga.

Karena itu, ia mendorong pengurus di tingkat kecamatan dan desa untuk memperkuat komunikasi serta menghidupkan forum pertemuan secara rutin. Forum tersebut dapat berbentuk kegiatan sosial, majelis taklim, pembinaan masyarakat, maupun pertemuan lain yang mempertemukan warga dalam suasana terbuka dan kekeluargaan.

“Kalau kita semua bergerak, mengajak tetangga dan mengumpulkan teman-teman dalam kegiatan yang baik, insyaallah akan lebih mudah,” kata Ahmad.

Penguatan Struktur hingga Tingkat Desa

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad juga menyampaikan hasil pemantauan terhadap kelengkapan struktur organisasi di wilayah Dapil 5. Struktur DPC disebut telah terbentuk secara lengkap, sedangkan sejumlah kepengurusan di tingkat desa masih perlu dilengkapi dan diaktifkan kembali.

Menurut dia, Sumowono telah mencapai kelengkapan struktur ranting. Sementara itu, Bandungan, Ambarawa, dan Jambu masih didorong untuk menuntaskan pembentukan serta penguatan kepengurusan di tingkat desa hingga akhir 2026.

Ia berharap setiap ranting dapat membangun sedikitnya satu forum pembinaan atau majelis taklim. Forum itu diharapkan menjadi ruang silaturahmi, pembelajaran, dan penguatan kepedulian antaranggota maupun masyarakat sekitar.

Ahmad menambahkan, penguatan struktur harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas kegiatan. Setiap pengurus diminta tidak hanya mengejar penambahan jumlah anggota, tetapi juga memastikan adanya pembinaan yang berkelanjutan.

Media Sosial untuk Menyebarkan Pesan Positif

Selain melalui pertemuan langsung, penggunaan media sosial secara bijak turut menjadi perhatian dalam sarasehan tersebut. Ahmad mengajak peserta tidak hanya menggunakan telepon seluler untuk menikmati hiburan, tetapi juga menyebarkan informasi kegiatan sosial dan pesan-pesan yang bermanfaat.

Menurut dia, dukungan sederhana terhadap informasi positif, seperti memberikan tanggapan, komentar yang baik, atau membagikan kegiatan sosial, dapat membantu memperluas manfaat sebuah kegiatan. Namun, penggunaan media sosial tetap harus dilakukan secara santun dan bertanggung jawab.

“Media sosial bisa digunakan untuk menyampaikan kegiatan yang baik agar masyarakat mengetahui dan tertarik ikut terlibat,” ujarnya.

Peserta dan narasumber Sarasehan Penanaman Nilai-Nilai Pancasila berfoto bersama sambil mengangkat tangan di Bandungan, Kabupaten Semarang.
Narasumber dan peserta Sarasehan Penanaman Nilai-Nilai Pancasila berfoto bersama seusai kegiatan di Pondok Makan Bukit Alam, Bandungan, Kabupaten Semarang, Minggu (26/7/2026). Foto Dok. Sugiharto.

Koordinasi untuk Menjawab Kebutuhan Warga

Ketua Bidang Pembinaan Cabang Dapil 5, Aminarto, menekankan pentingnya koordinasi rutin antara pengurus tingkat kecamatan dan desa. Ia mengatakan komunikasi yang lemah dapat menghambat penyampaian informasi dan penanganan kebutuhan masyarakat.

Ia menyoroti kebiasaan sebagian anggota grup komunikasi yang tidak memberikan tanggapan ketika menerima undangan atau informasi kegiatan. Menurut dia, respons sederhana tetap diperlukan agar pengirim informasi mengetahui apakah pesan telah diterima dan ditindaklanjuti.

“Kalau memang tidak bisa hadir, sampaikan izin. Itu lebih baik daripada tidak memberikan respons sama sekali,” kata Aminarto.

Aminarto menjelaskan, koordinasi bukan sekadar pertemuan formal. Melalui koordinasi, pengurus dapat menyampaikan persoalan lingkungan, kebutuhan pendampingan masyarakat, serta berbagai hal yang memerlukan tindak lanjut bersama.

Ia meminta ketua DPC dan pengurus DPRa menjaga komunikasi secara teratur. Apabila terdapat kesulitan dalam melengkapi kepengurusan di suatu wilayah, pengurus dapat bekerja sama dengan ranting lain yang telah lebih dahulu terbentuk.

Menurut dia, jaringan pertemanan dan hubungan sosial yang dimiliki pengurus dapat menjadi pintu masuk untuk menjangkau warga di wilayah lain. Pendekatan tersebut perlu dilakukan melalui silaturahmi dan komunikasi yang baik.

Aminarto juga mendorong terselenggaranya pembinaan secara rutin. Apabila pertemuan setiap pekan dinilai belum memungkinkan, pembinaan dapat dimulai dua pekan sekali atau minimal satu kali dalam sebulan.

“Yang penting kegiatan pembinaan mulai berjalan dan dilakukan secara konsisten,” ujarnya.

Menjaga Kebersamaan melalui Pembinaan Rutin

Sementara itu, Syaiful Umar menyampaikan pesan Ketua Bidang Kaderisasi Anggota dan Pembinaan DPD PKS Kabupaten Semarang Ahmad Rifai mengenai pentingnya menjaga kebersamaan setelah kegiatan selesai.

Ia mengatakan pertemuan tersebut tidak boleh menjadi kegiatan sesaat. Peserta diharapkan tetap terhubung melalui forum-forum pembinaan dan kegiatan sosial di wilayah masing-masing.

Menurut Syaiful, pembinaan menjadi bagian penting dalam upaya membentuk pribadi yang semakin baik, saleh, bertakwa, dan mampu menjaga kerukunan dengan masyarakat sekitar.

“Setiap orang yang bergabung diharapkan semakin hari semakin baik. Salah satu caranya adalah dengan senantiasa bertemu dalam forum pembinaan,” katanya.

Ia menjelaskan, forum pembinaan dapat dilaksanakan dalam bentuk pertemuan pekanan, majelis taklim bulanan, maupun kegiatan lain yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

Melalui pertemuan rutin, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun kepedulian sosial dan kebiasaan bekerja sama. Nilai persatuan dan gotong royong, menurut dia, akan lebih mudah tumbuh apabila masyarakat memiliki ruang untuk saling bertemu.

Topik Terkait: Kegiatan Kader
Kontributor: Sugiharto Editor: Imam Bukhari
[isi_form_komunitas_kreatif]
Layanan Aspirasi Fraksi PKS

Formulir Layanan Aspirasi DPRD

Sampaikan usulan, aduan, atau kebutuhan warga secara lebih rapi, terstruktur, dan mudah diproses oleh admin.

Langkah 1 dari 5 20%

Data Pengusul

Isi identitas pengusul atau perwakilan yang menyampaikan aspirasi.

Gunakan nama lengkap asli.
Pastikan nomor aktif.
Opsional.
Pilih posisi Anda.

Detail Aspirasi

Jelaskan inti usulan, masalah, atau kebutuhan secara spesifik.

Tindak Lanjut

Tentukan prioritas dan jenis tindak lanjut.

Lampiran & Persetujuan

Review Data

Pastikan semua data sudah benar sebelum mengirim.