Dakwah dan Nilai Keislaman

Merawat Niat di Jalan Pengabdian

Dr. Dakhori, S.Pd.I., M.E.

Dr. Dakhori, S.Pd.I., M.E.

Pegiat Ekonomi Syariah

Diterbitkan: 20 Agustus 2026 • Waktu baca ~7 menit

Ada kalanya tubuh kita benar-benar merasa lelah. Setelah satu agenda selesai, agenda lain sudah menunggu. Rapat yang semula kita kira hanya akan membahas satu persoalan, ternyata membuat kita pulang dengan dua atau tiga amanah baru. Pesan di grup percakapan terus berdatangan. Urusan organisasi, pekerjaan, keluarga, dan pelayanan kepada masyarakat seolah tidak pernah selesai.

Pada saat seperti itu, saya kira kita perlu sesekali bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya untuk siapa semua yang kita kerjakan ini?

Pertanyaan itu penting. Sebab jalan pengabdian memang tidak selalu menyediakan karpet merah. Tidak setiap kerja keras mendapat tepuk tangan. Tidak setiap pengorbanan memperoleh penghargaan. Bahkan ucapan terima kasih pun belum tentu datang.

Ada orang-orang yang diam-diam menghabiskan waktunya untuk mendatangi masyarakat di desa-desa. Ada yang menggunakan uang pribadinya agar sebuah kegiatan tetap berjalan. Ada pula yang menahan persoalan keluarganya sendiri sambil tetap berusaha menyelesaikan persoalan orang lain.

Tidak semua orang mengetahui itu.

Namun, justru di situlah makna keikhlasan diuji. Ketika tidak ada manusia yang melihat apa yang kita lakukan, kita harus meyakini bahwa Allah SWT mengetahuinya. Tidak ada kelelahan yang terlewat dari pengawasan-Nya.

Karena itu, hal pertama yang menurut saya harus terus kita rawat adalah niat.

Allah SWT mengajarkan agar manusia beribadah kepada-Nya dengan memurnikan ketaatan. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa setiap amal bergantung kepada niatnya.

Nasihat ini terdengar sederhana, tetapi praktiknya tidak selalu mudah.

Kita manusia biasa. Kita bisa merasa senang ketika nama disebut dalam sebuah sambutan. Kita mungkin merasa dihargai ketika pekerjaan mendapatkan apresiasi. Sebaliknya, kita juga bisa kecewa ketika segala jerih payah seperti tidak dianggap.

Kalau yang kita cari adalah pujian manusia, perjalanan pengabdian akan sangat melelahkan. Sebab manusia bisa memuji hari ini dan melupakan kita esok hari.

Tetapi apabila yang menjadi tujuan adalah ridha Allah SWT, pujian dan pengakuan manusia tidak lagi menjadi penentu apakah kita akan terus berjalan atau berhenti.

Kita bekerja bukan karena ingin dianggap paling berjasa. Kita hadir bukan agar dipandang paling penting. Kita berbuat karena meyakini ada nilai ibadah dalam setiap manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain.

Merangkul, Bukan Saling Melukai

Hal kedua yang harus kita jaga adalah persaudaraan.

Dalam organisasi atau perjuangan apa pun, perbedaan pandangan pasti terjadi. Ada orang yang bekerja cepat, ada yang lambat. Ada yang selalu hadir, ada yang pada suatu waktu harus mengurangi aktivitas karena persoalan hidupnya.

Kita perlu mengingat bahwa orang yang berada di sebelah kita bukanlah musuh dan bukan pula pesaing. Mereka adalah saudara yang sama-sama menyediakan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk memikul beban yang tidak ringan.

Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Rasulullah SAW pun mengajarkan bahwa seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya.

Karena itu, jika ada saudara kita melakukan kesalahan, tegurlah dengan cara yang baik. Jangan menjadikan grup WhatsApp sebagai tempat untuk melempar sindiran. Kalimat yang bagi kita mungkin terasa biasa, bagi orang lain bisa meninggalkan luka panjang.

Kita juga perlu memahami bahwa setiap orang datang dengan beban hidup masing-masing.

Ada yang sedang berhadapan dengan persoalan ekonomi. Ada yang memiliki masalah keluarga. Ada yang kelelahan oleh pekerjaan. Ada pula yang mungkin sedang mengalami situasi yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Dalam konteks yang saya temui di Kabupaten Semarang, misalnya, hasil survei menunjukkan sekitar 70 persen kader menghadapi persoalan ekonomi. Angka itu seharusnya membuat kita semakin memiliki empati.

Ketika langkah seorang saudara melambat, tugas kita bukan segera meninggalkannya. Ulurkan tangan. Dengarkan persoalannya. Jika tidak mampu membantu secara materi, setidaknya jangan menambah bebannya dengan penghakiman.

Perjuangan yang besar hanya mungkin bertahan jika orang-orang di dalamnya saling menguatkan.

Masyarakat Bukan Angka

Hal lain yang menurut saya sangat penting adalah cara kita memandang masyarakat.

Ketika turun ke kampung, desa, atau lingkungan masyarakat, jangan datang dengan perasaan bahwa kita adalah orang yang paling penting. Jangan merasa paling mengerti agama, paling suci, atau paling memahami apa yang dibutuhkan warga.

Datanglah untuk mendengar.

Sering kali masyarakat tidak membutuhkan ceramah panjang. Mereka hanya ingin ada orang yang sungguh-sungguh bersedia mendengarkan persoalan mereka.

Ada warga yang sedang kesulitan mencari pekerjaan. Ada pedagang kecil yang kesulitan modal. Ada keluarga yang memikirkan biaya sekolah anak. Ada petani yang menghadapi persoalan hasil panen.

Kegelisahan seperti itu tidak cukup dijawab dengan kalkulasi politik.

Saya kira kita harus berani meninggalkan kebiasaan melihat masyarakat semata-mata sebagai angka. Jangan sampai sebuah bantuan baru dianggap penting jika menghasilkan dukungan politik. Jangan memandang warga hanya sebagai deretan nama dalam daftar pemilih tetap.

Jika setiap kegiatan ekonomi, sosial, dan kemanusiaan selalu berakhir pada pertanyaan, “Berapa suara yang akan kita dapat?”, maka kita sedang kehilangan sesuatu yang sangat mendasar: ketulusan dalam melayani.

Rasulullah SAW diutus sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam.

Prinsip inilah yang semestinya kita bawa ketika hadir di tengah masyarakat. Bawalah kasih sayang. Bawalah senyum yang tulus. Jadikan orang yang kita temui merasa bahwa mereka memiliki saudara yang bersedia hadir ketika mereka menghadapi kesulitan.

Bagi saya, doa dari seorang warga yang terbantu jauh lebih berharga daripada banyak jabatan.

Ketika seseorang yang sedang kesulitan kemudian tersenyum karena kehadiran kita, di situlah sesungguhnya ada keberhasilan yang tidak bisa dihitung dengan matematika politik.

Pulanglah ke Sajadah

Namun, saya juga menyadari ada satu bahaya dalam kesibukan. Kita bisa begitu sibuk mengurus banyak orang sampai lupa mengurus hati sendiri.

Agenda boleh padat. Perencanaan boleh rapi. Timeline kegiatan boleh tersusun sempurna. Tetapi jangan sampai semua itu membuat hubungan kita dengan Allah SWT justru semakin jauh.

Karena itu, setelah seluruh kesibukan tersebut, pulanglah ke sajadah.

Ambillah wudhu ketika sebagian besar manusia sedang terlelap. Berdirilah dalam tahajud. Tidak perlu selalu membawa doa yang tersusun indah. Ceritakan saja semuanya kepada Allah.

Ceritakan bahwa kita lelah.

Ceritakan bahwa ada amanah yang terasa terlalu berat.

Ceritakan ketakutan kita, ketidakmampuan kita, persoalan keluarga kita, bahkan kesulitan dompet ketika akhir bulan tiba.

Di hadapan Allah, kita tidak harus terlihat kuat.

Justru dari sujud itulah kekuatan untuk kembali berjalan bisa lahir.

Saya selalu teringat perjalanan Rasulullah SAW ke Thaif. Beliau datang membawa kebaikan, tetapi justru mendapatkan penolakan. Tubuh beliau dilempari batu hingga terluka.

Dalam keadaan seperti itu, Rasulullah tidak memilih membalas keburukan dengan keburukan. Bahkan ketika datang kesempatan untuk menghukum orang-orang yang menyakitinya, beliau tetap berharap mereka mendapatkan petunjuk.

Kisah Thaif mengajarkan kepada kita bahwa jalan kebaikan memang tidak selalu mudah.

Karena itu, ketika baru sedikit lelah lalu muncul keinginan untuk menyerah, kita perlu kembali bertanya: sudah seberapa berat sebenarnya pengorbanan kita dibandingkan perjuangan Rasulullah SAW?

Menjadi Akar

Tidak semua orang harus terlihat.

Saya justru membayangkan orang-orang yang berjuang dengan ikhlas itu seperti akar sebuah pohon. Akar berada di bawah tanah. Tidak tampak. Jarang dipuji karena keindahannya. Tidak masuk dalam foto ketika orang mengagumi rindangnya pohon.

Tetapi akar itulah yang membuat pohon tetap berdiri.

Akar bekerja dalam diam agar batang tidak tumbang, daun tetap hijau, dan pada waktunya buah bisa dinikmati banyak orang.

Dalam kehidupan yang semakin gemar mempertontonkan segala sesuatu melalui media sosial, mungkin kita juga perlu belajar nyaman menjadi “akar”.

Tidak semua kebaikan harus dipublikasikan. Tidak semua kerja harus diketahui orang. Tidak setiap pengorbanan membutuhkan pengakuan.

Ada kalanya cukup Allah yang mengetahui.

Pada akhirnya, kita semua akan sampai pada batas perjalanan. Jabatan selesai. Struktur berganti. Nama kita mungkin perlahan tidak lagi disebut.

Yang tersisa adalah pertanyaan sederhana: apakah selama diberi kesempatan hidup kita pernah sungguh-sungguh memberikan manfaat?

Maka, ketika lelah datang, jangan buru-buru berhenti. Periksa kembali niat. Rangkul saudara di sekitar kita. Hadirlah di tengah masyarakat dengan kasih sayang. Setelah itu, pulanglah ke sajadah.

Semoga setiap lelah yang dijalani dalam kebaikan menjadi jalan untuk memperoleh ridha Allah SWT.

***

Artikel ini disarikan dari materi saat kegiatan Unit Pembinaan Anggota (UPA) yang disampaikan oleh Dr. Dakhori pada 19 Agustus 2026 di Bringin, Kabupaten Semarang.

Catatan Redaksi: Isi opini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan, data, dan argumentasi yang disampaikan di dalam artikel tidak selalu mencerminkan sikap resmi redaksi.
Dr. Dakhori, S.Pd.I., M.E.

Dr. Dakhori, S.Pd.I., M.E.

Pegiat Ekonomi Syariah

Dr. H. Dakhori, S.Pd.I., M.E. merupakan akademisi dan pegiat ekonomi syariah yang aktif menulis serta menjadi narasumber dalam berbagai isu keislaman, ekonomi syariah, dan kebijakan publik. Ia menyelesaikan studi doktor (S-3) bidang Hukum Islam di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan disertasi mengenai implementasi wakaf produktif sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat.

[isi_form_komunitas_kreatif]
Layanan Aspirasi Fraksi PKS

Formulir Layanan Aspirasi DPRD

Sampaikan usulan, aduan, atau kebutuhan warga secara lebih rapi, terstruktur, dan mudah diproses oleh admin.

Langkah 1 dari 5 20%

Data Pengusul

Isi identitas pengusul atau perwakilan yang menyampaikan aspirasi.

Gunakan nama lengkap asli.
Pastikan nomor aktif.
Opsional.
Pilih posisi Anda.

Detail Aspirasi

Jelaskan inti usulan, masalah, atau kebutuhan secara spesifik.

Tindak Lanjut

Tentukan prioritas dan jenis tindak lanjut.

Lampiran & Persetujuan

Review Data

Pastikan semua data sudah benar sebelum mengirim.