SEMARANG, PKS KABUPATEN SEMARANG – Politisi tidak cukup hanya hadir menjelang pemilu. Bagi Nafis Munandar, keberhasilan seorang wakil rakyat dibangun dari hubungan panjang dengan masyarakat, konsistensi sikap, serta modal sosial yang dirawat jauh sebelum hari pencoblosan.
Anggota DPRD yang telah menjalani tiga periode itu mengatakan, masyarakat pada akhirnya akan mampu membedakan antara kehadiran yang tulus dan kedatangan yang hanya didorong kepentingan politik sesaat. Menurut dia, konsistensi menjadi ukuran utama dalam membangun kepercayaan.
“Kalau baru satu atau dua kali datang ke undangan, orang akan menganggap kita punya pamrih. Tapi kalau sudah ke-11 atau ke-12 kali diundang dan selalu menyempatkan hadir, orang baru tersadar bahwa itu adalah karakter asli kita,” ujar Nafis dikutip dari podcast Gazebo NHS yang dirilis pada 7 September 2026 dalam dialog bersama Nur Hidayat Sardini
Menurut Nafis, politik kerap menghadapkan orang baik pada situasi dilematis. Di satu sisi, figur yang memiliki kepedulian akan mudah diterima masyarakat. Namun di sisi lain, kebaikan tersebut juga berpotensi dimanfaatkan oleh pihak tertentu.
Ia menilai pihak yang sering memanfaatkan figur baik bukanlah masyarakat kecil, melainkan oknum di lingkaran politik lokal yang menjadikan hubungan sosial sebagai alat kepentingan. Karena itu, seorang politisi perlu membangun sistem hubungan yang sehat dengan masyarakat dan tidak semata bergantung pada jaringan transaksional.
Modal Sosial Lebih Kuat daripada Politik Uang
Nafis berpandangan bahwa maraknya politik uang justru menunjukkan lemahnya modal sosial seorang kandidat. Menurut dia, caleg yang memiliki rekam jejak hubungan sosial yang kuat tidak harus mengandalkan biaya besar untuk mendapatkan dukungan.
“Saya melihat ketika banyak pengamat berbicara mengenai masifnya politik uang, saya justru melihat orang-orang yang mengutamakan politik uang itu tidak memiliki modal sosial yang kuat,” kata Nafis.
Ia menjelaskan, modal sosial tidak hanya berasal dari diri seorang calon, tetapi juga dari lingkungan keluarga dan sejarah hubungan sosial yang telah terbentuk. Dalam konteks budaya Jawa, ia menyebut konsep bibit, bobot, bebet sebagai salah satu faktor yang memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap seorang calon pemimpin.
Menurut Nafis, modal sosial tetap membutuhkan kemampuan untuk dikonversi menjadi kepercayaan politik. Kehadiran fisik, kepedulian, serta keterlibatan dalam kehidupan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Ia mencontohkan kebiasaan seorang politisi yang rutin menghadiri takziah, ikut memikul keranda jenazah, dan hadir dalam momen duka masyarakat. Bagi keluarga yang ditinggalkan, kata dia, kehadiran langsung sering kali lebih bermakna dibandingkan pemberian materi.
Kampanye Seumur Tahun, Bukan Hanya Menjelang Pemilu
Nafis menegaskan, strategi politik yang efektif bukanlah kampanye yang baru dimulai ketika pemilu tiba. Bagi politisi yang telah memiliki basis sosial, hari pencoblosan hanya menjadi tahap akhir untuk menjaga kepercayaan yang telah dibangun sebelumnya.
“Betul sekali, kampanyenya sepanjang tahun,” ujar Nafis. Ia menilai pemilih pada akhirnya lebih banyak menentukan pilihan berdasarkan figur atau nama calon, bukan semata-mata partai politik.
Ia menyebut pemilih Indonesia sebagai pemilih yang rasional sekaligus emosional. Rasional karena memiliki pertimbangan dalam menentukan pilihan, dan emosional karena keputusan politik juga berkaitan dengan nilai moral, agama, serta budaya yang berkembang di masyarakat.
Menurut dia, konsistensi menjadi kunci. Figur politik yang hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat secara berkelanjutan akan lebih mudah dipercaya dibandingkan mereka yang hanya muncul ketika membutuhkan suara.
Belajar dari Kegagalan Politik
Dalam perjalanan politiknya, Nafis mengatakan dirinya tidak hanya belajar dari kandidat yang berhasil, tetapi juga dari mereka yang gagal. Menurut dia, pengalaman kegagalan sering kali memberikan pelajaran strategis yang lebih besar.
Ia mencontohkan adanya kandidat yang mengeluarkan biaya besar hingga menjual aset, namun tetap gagal terpilih. Dari pengalaman tersebut, ia menyimpulkan bahwa uang bukan satu-satunya faktor penentu kemenangan politik.
Bagi Nafis, politik adalah arena perjuangan yang membutuhkan kerja keras, baik ketika seseorang berjuang melalui partai politik, membangun usaha, maupun membangun organisasi sosial.
Merawat Kepercayaan Setelah Terpilih
Nafis juga mengingatkan bahwa kemenangan pemilu bukan akhir dari perjuangan politik. Tantangan terbesar justru muncul setelah seseorang mendapatkan jabatan.
Ia mengkritik sikap sebagian politisi yang menganggap jabatan sebagai hadiah dan pemilih sebagai pihak yang otomatis akan kembali mendukung. Menurut dia, cara pandang tersebut keliru karena kepercayaan masyarakat harus terus dirawat.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan masyarakat melalui kerja nyata. Baginya, hubungan antara legislator dan pemilih bukan hubungan sesaat, melainkan ikatan yang harus dipelihara sepanjang masa jabatan.
Nafis menilai orang baik tetap memiliki ruang dalam politik selama mampu menjaga konsistensi dan membangun kepercayaan. Politik, menurut dia, bukan hanya tentang memenangkan suara, tetapi tentang menghadirkan nilai dan kepedulian yang dirasakan langsung oleh masyarakat.