TUNTANG – Matahari jelang siang belum terlalu terik menyinari Kampoeng Banyumili, Kecamatan Tuntang, pada Minggu (12/4/2026). Angin semilir menyapu pelataran yang dipadati ratusan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Semarang. Waktu yang beranjak menuju zuhur itu terasa begitu guyub dan penuh kehangatan dalam gelaran halal bihalal yang mempertemukan para pengurus partai.
Mengawali perjumpaan, Sekretaris DPD PKS Kabupaten Semarang, Ahmad Muntaha, memberikan sambutan pembuka yang mencairkan suasana. Ia mengajak para peserta untuk memaknai pertemuan pasca-Lebaran ini dengan sederhana namun utuh. “Inti dari halal bihalal ini sebenarnya ada tiga, yakni merajut silaturahmi, saling bermaaf-maafan, dan merayakan kebersamaan lewat makan-makan,” ujar Ahmad Muntaha.
Momen kebersamaan menjelang zuhur itu terasa semakin mendalam lewat siraman rohani yang disampaikan oleh KH Luthfi Chakim, Lc. Sang kiai memaparkan prioritas langkah spiritual dan sosial yang harus diambil setelah sebulan penuh fokus beribadah puasa. “Kedua orang tua adalah pintu utama menuju surga. Setelah Ramadan kita perbanyak ibadah, maka langkah selanjutnya adalah mengunjungi orang tua kita,” pesannya dengan nada lembut.

Setelah bakti kepada orang tua tertunaikan, kewajiban berbuat baik harus terus dialirkan kepada kerabat yang paling dekat nasabnya. Kepedulian ini juga wajib diperluas untuk menyapa anak-anak yatim, orang miskin, dan para tetangga di lingkungan tempat tinggal. KH Luthfi memberikan catatan khusus mengenai adab bertetangga yang harus dijunjung tinggi tanpa pandang bulu.
“Tetangga itu memiliki tiga tingkatan hak. Ada yang berhak karena kedekatan nasab, ada karena sesama muslim, sampai tetangga yang bukan kerabat dan tidak seiman,” tegas KH Luthfi di hadapan para peserta. Ia mengingatkan bahwa perbedaan latar belakang dan keyakinan tidak boleh menjadi penghalang untuk berbuat ihsan. “Semuanya tetap wajib kita perlakukan dengan baik.”
Pesan merawat kerukunan sosial ini seolah membangkitkan kembali ingatan tentang program luhur partai di masa lalu, yakni gerakan mempedulikan empat puluh tetangga terdekat. Memasuki akhir tausiahnya, KH Luthfi memberikan penegasan sikap yang sangat prinsipil bagi seluruh kader agar tidak tercerabut dari akar kemasyarakatannya.
“Antara kampung dan organisasi atau partai, maka utamakan kampungnya terlebih dahulu. Kalau ada acara tetangga, harus didahulukan tetangganya,” pungkasnya memungkasi nasehat.