Jamaah shalat Idulfitri yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita berdiri dalam suasana kemenangan. Namun, kemenangan Idulfitri bukan sekadar gema takbir, bukan pula sekadar tradisi saling bermaafan. Ia adalah momentum kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian jiwa setelah ditempa oleh Ramadhan. Allah berfirman:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.”
(QS. Al-A‘la: 14)
Ramadhan telah menjadi ruang penyucian itu. Maka, Idulfitri adalah pertanyaan: apakah kita benar-benar kembali bersih, atau hanya berganti suasana tanpa perubahan jiwa?
Jamaah yang berbahagia,
Salah satu makna terdalam Idulfitri adalah memaafkan. Memaafkan dalam Islam bukan sekadar ucapan di lisan. Kata al-‘afwu berarti menghapus, menghapus luka, menghilangkan bekas, hingga tidak tersisa dalam hati. Allah memerintahkan:
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?”
(QS. An-Nur: 22)
Maka, Idulfitri mengajarkan kita untuk tidak berhenti pada kata “maaf”, tetapi melangkah lebih jauh menghapus luka yang mungkin telah lama tersimpan.
Bahkan, Islam mengajarkan tingkatan yang lebih tinggi, yaitu ash-shafhu, melapangkan dada sepenuhnya. Bukan hanya memaafkan, tetapi juga membuka lembaran baru tanpa lagi mengungkit masa lalu. Allah berfirman:
“Maka maafkanlah dengan pemaafan yang indah.”
(QS. Al-Hijr: 85)
Inilah keindahan Idulfitri: tidak hanya sekadar menyelesaikan konflik, tetapi benar-benar menutup lembaran lama dan memulai kembali dengan hati yang lapang.
Jamaah sekalian,
Kesucian diri tidak akan sempurna tanpa memperbaiki hubungan dengan sesama. Tidak cukup kita merasa dekat dengan Allah, sementara hubungan dengan manusia masih menyisakan luka. Karena itu, Allah mengingatkan:
“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.”
(QS. Al-Anfal: 1)
Idulfitri adalah momentum memperbaiki relasi, menghubungkan kembali yang terputus, mendekatkan yang sempat menjauh.
Dan di antara ciri orang bertakwa adalah kemampuannya menahan amarah dan memaafkan. Allah berfirman:
“Yaitu orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)
Maka, ukuran kemuliaan bukan pada siapa yang benar, tetapi pada siapa yang mampu memaafkan.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Islam juga mengajarkan bahwa kesalahan kepada sesama tidak cukup diselesaikan hanya dengan taubat kepada Allah. Ia harus diselesaikan langsung dengan manusia yang bersangkutan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Siapa yang memiliki kezaliman terhadap orang lain terkait kehormatan atau sesuatu, maka hendaklah ia meminta maaf kepadanya hari ini, sebelum tidak ada dinar dan tidak ada dirham. Jika ia memiliki amal baik, maka amal baik itu akan diambil darinya sesuai dengan kadar kezalimannya. Jika ia tidak memiliki kebaikan, maka dosa-dosa orang yang dizalimi akan dibebankan kepadanya.’”
(HR. Bukhari no. 2449)
Karena itu, Idulfitri adalah waktu terbaik untuk menyelesaikan segala urusan hati sebelum semuanya menjadi penyesalan.
Islam juga melarang kita memelihara permusuhan terlalu lama. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya sesama Muslim lebih dari tiga hari, dan yang terbaik dari keduanya adalah yang lebih dahulu memberi salam.”
(HR. Bukhari no. 6077, Muslim no. 2560)
Artinya, semakin cepat kita memulai perdamaian, semakin dekat kita dengan kebaikan.
Pada akhirnya, semua ini bermuara pada satu hal: kebersihan hati. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat hati-hati kalian dan amalan-amalan kalian.”
(HR. Muslim no. 2564)
Di sinilah letak ukuran sejati. Yang dinilai bukan penampilannya, bukan ucapannya, tetapi hati yang bertakwa, hati yang bersih dari kebencian, dari kesombongan, dan dari sikap merendahkan orang lain.
Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari segala dendam dan kebencian.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang ikhlas dalam memaafkan dan lapang dalam menerima.
Ya Allah, pertemukan kami dalam persaudaraan yang tulus, jauh dari prasangka dan permusuhan.
Ya Allah, terimalah amal ibadah kami di bulan Ramadhan, dan jadikanlah kami pribadi yang lebih baik setelahnya.
Ya Allah, tanamkan dalam hati kami keikhlasan, kejujuran, dan ketakwaan hingga akhir hayat kami.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.