SALATIGA – Di hadapan sekitar 100 peserta di Resto Oke Go Salatiga, Suminah Duta RKI mengajak tokoh perempuan Kabupaten Semarang meneguhkan keluarga sebagai ruang kasih sayang, penghargaan, dan ketenteraman.
Lantunan shalawat terdengar bersama di Resto Oke Go Salatiga, Kamis (14/5/2026). Sekitar 100 peserta yang hadir, termasuk tamu undangan dari berbagai organisasi masyarakat perempuan di Kabupaten Semarang, mengikuti ajakan Suminah, M.Si., untuk bershalawat sebelum memasuki penyampaian materi.
“Shalâtullâh salâmullâh, ‘alâ thâ rasûlillâh,” lantun Suminah, disambut peserta yang ikut mengiringi dengan khidmat.
Momen itu menghadirkan suasana hangat sekaligus guyub. Sebelum memulai, Suminah sempat mencairkan forum dengan candaan ringan saat memilih nada shalawat. “Lagune klasik opo modern? Modern wong wis mbah-mbah lak yo sing modern,” ujarnya. Ia lalu menambahkan sambil tersenyum, “Kan saya sudah mbah-mbah, lahiran 73 sudah mbah-mbah.”
Kebersamaan dalam shalawat menjadi pembuka yang mengantar forum menuju pembahasan yang lebih mendalam tentang keluarga. Dalam kesempatan tersebut, Suminah, yang hadir sebagai Duta RKI PKS Kabupaten Semarang, menyampaikan apresiasi atas berkumpulnya para tokoh perempuan. Ia menilai kehadiran perempuan dalam ruang-ruang sosial sangat penting karena mereka memiliki kedekatan pengalaman dalam memahami persoalan keluarga dan kehidupan perempuan.
“Masyaallah, hari ini luar biasa para tokoh perempuan berkumpul di sini. Kiprah perempuan itu memang sangat dibutuhkan,” kata Suminah.
Ia juga menyampaikan penghormatan kepada jajaran DPD PKS Kabupaten Semarang, para tokoh perempuan yang hadir, Titik Anggraini Ketua Bipeka Jawa Tengah, Siti Alfiatun beserta jajaran Bipeka DPD PKS Kabupaten Semarang, serta Ketua Bipeka Kecamatan se-Kabupaten Semarang.
Dalam materinya, Suminah menekankan pentingnya menjadikan rumah sebagai tempat yang menghadirkan penghargaan, penerimaan, dan ketenteraman bagi seluruh anggota keluarga. Menurutnya, kehidupan di luar rumah kerap penuh tekanan, sehingga keluarga harus menjadi ruang yang menenangkan.
“Kalau di luar itu kawah candradimuka. Kalau di dalam itu memang harus kita jadikan tempat penghargaan, tempat rumah penuh cinta,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penghargaan perlu tumbuh dalam relasi suami istri, hubungan orang tua dengan anak, hingga perhatian kepada anggota keluarga yang telah lanjut usia. Rumah, menurutnya, bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat setiap orang merasa diakui dan diterima.
Suminah mengaitkan hal itu dengan keseharian yang dekat dengan pengalaman banyak keluarga. Ia menuturkan bahwa perhatian orang tua terhadap anak sering kali baru dipahami secara utuh setelah seseorang merasakan sendiri menjadi orang tua.
“Ning saiki ngerasake tua, jebulane nak anake mulih nyepeda urung teko omah mumet, Bu,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya keluarga dalam pembentukan karakter anak. Berdasarkan pengalamannya sebagai pendidik, anak-anak yang menghadapi kesulitan di sekolah kerap membawa beban dari rumah.
“Bocah sing rodok angel, bocah ini pasti ada masalah di rumahnya,” ucap Suminah.
Selain membangun suasana reflektif, Suminah juga mengingatkan adanya tantangan serius dalam kehidupan keluarga saat ini. Ia menyinggung peristiwa kekerasan dalam rumah tangga sebagai cermin rapuhnya relasi ketika konflik tidak diselesaikan secara sehat. Ia juga menyampaikan data bahwa konflik menjadi penyebab utama perceraian selama enam tahun berturut-turut. Pada 2025, konflik disebut menyumbang 64,4 persen penyebab perceraian, dengan jumlah 282.326 kasus.
Data tersebut, menurutnya, perlu dibaca sebagai panggilan untuk memperkuat keluarga dari hal-hal yang paling mendasar, mulai dari komunikasi, penghargaan, hingga kemampuan menahan diri dalam menghadapi perbedaan.
“Dari mana kita akan mulai, untuk berperan menjadikan keluarga-keluarga Indonesia yang fungsinya sangat luar biasa menjadi keluarga yang tempat nyaman bagi semua anggota,” tutur Suminah.
Di sela materi, ia kembali menghadirkan humor yang membuat suasana tetap hidup. Suminah menceritakan pengalamannya saat diminta membuat yel-yel untuk kegiatan Hari Kartini di kampungnya. Ia sempat mengusulkan kalimat, “Inilah kita generasi Kartini, cinta pada negeri, taat pada suami.” Namun, respons yang muncul justru mengundang tawa.
“Mbak, kata-kata ‘taat pada suami’ kui dihapus, Mbak,” ujarnya menirukan tanggapan peserta kala itu. Suminah kemudian berkomentar, “Lah piye, lak apik to?”
Kisah tersebut menjadi penanda bahwa pembahasan mengenai keluarga, peran, dan relasi antaranggotanya masih membutuhkan ruang dialog yang terus dirawat. Melalui forum itu, Suminah mengajak para perempuan untuk tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai penggerak dalam membangun keluarga yang lebih sehat dan tangguh.